Rangkaian demo yang terjadi antara 25–31 Agustus 2025 mencatat sejarah baru dalam dinamika politik Indonesia. Aksi ini dipicu oleh kebijakan DPR yang memberikan tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta per bulan kepada setiap anggotanya sejak Oktober 2024. Meski para pimpinan DPR menegaskan bahwa tunjangan tersebut hanya berlangsung selama satu tahun dengan dalih pembayaran kontrak rumah untuk lima tahun masa jabatan 2024–2029 penjelasan itu tidak mampu meredam kritik publik. Bagi masyarakat, fakta bahwa seorang anggota DPR menerima tunjangan setara ratusan juta rupiah di tengah kondisi ekonomi sulit dianggap sebagai bentuk ketidakadilan struktural sekaligus arogansi politik.1

Kronologi Rangkaian Demo 25-31 Agustus 2025
Rangkaian Demo awalnya berlangsung damai. Mahasiswa, buruh, hingga komunitas pengemudi ojek online berkumpul di depan Gedung DPR/MPR Senayan untuk menyampaikan aspirasi. Mereka membawa poster bertuliskan “Hidup Sederhana, Jangan Hidup di Istana” atau “Rp 50 Juta = 5 Tahun Pendidikan Gratis.” Namun, seiring hari-hari berjalan, aksi meluas ke berbagai kota besar di Indonesia. Tuntutan massa pun tidak lagi sebatas soal tunjangan rumah, tetapi melebar ke isu-isu yang lebih mendasar: transparansi, akuntabilitas, dan legitimasi DPR sebagai lembaga representasi rakyat.2

Rangkaian Demo 25 Agustus – Awal Gelombang Protes
Pada hari pertama rangkaian demo, 25 Agustus 2025, ribuan mahasiswa, buruh, hingga pengemudi ojek online turun ke jalan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta. Mereka menyuarakan penolakan terhadap kebijakan tunjangan rumah DPR sebesar Rp 50 juta per bulan yang dinilai mencederai rasa keadilan rakyat. Konsentrasi massa terbesar terjadi di Jakarta, dengan gelombang manusia yang memadati kawasan Senayan.3

Di ibu kota, rangkaian demo situasi mulai memanas ketika massa mencoba mendekati Gedung DPR/MPR. Aparat keamanan berusaha menghadang dengan pagar kawat berduri dan barisan polisi, namun desakan massa semakin kuat. Bentrokan pun tidak dapat dihindari, ketika aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Kondisi ini menimbulkan kepanikan, disertai kemacetan parah di ruas tol menuju Senayan yang lumpuh oleh arus massa dan kendaraan aparat.

Rangkaian demo 25 Agustus 2025 kemudian diberi tajuk simbolik “Indonesia Gelap, Revolusi Dimulai.” Slogan ini menyiratkan bahwa protes bukan semata reaksi spontan, melainkan ungkapan kekecewaan mendalam atas krisis representasi rakyat di parlemen. Hari pertama aksi menjadi penanda bahwa gelombang penolakan terhadap DPR tidak lagi bisa dipandang sepele, karena menyatukan berbagai lapisan masyarakat dengan semangat perlawanan yang sama: menuntut keadilan dan transparansi dari para wakil rakyat.
26–28 Agustus – Mobilisasi Meluas
Ketegangan aksi rangkaian demo tetap tinggi pada 27–28 Agustus 2025. Di Jakarta, aparat keamanan berusaha keras menahan arus massa dengan menggunakan water cannon dan gas air mata. Namun, langkah represif itu justru memicu perlawanan balik dari demonstran yang melemparkan batu, botol, serta membakar ban di jalanan. Situasi yang awalnya berupa aksi protes damai pun berubah menjadi bentrokan terbuka antara massa dan aparat.4

Pada puncaknya, rangkaian demo pada 28 Agustus 2025, terjadi peristiwa tragis yang mengubah arah demonstrasi. Seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob saat aparat berusaha membubarkan kerumunan. Kematian Affan menjadi simbol ketidakadilan baru yang menyulut kemarahan publik. Video dan foto kejadian tersebut cepat menyebar di media sosial, memperbesar gelombang simpati dan solidaritas di seluruh penjuru negeri.

Tragedi ini memperluas tuntutan demonstran yang semula berfokus pada penolakan tunjangan DPR. Publik mulai mendesak adanya reformasi ekonomi, pengawasan anggaran yang lebih ketat, serta transparansi menyeluruh di tubuh DPR. Affan Kurniawan dipandang sebagai “martir rakyat,” dan kematiannya menjadi titik balik yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat untuk menekan pemerintah dan parlemen agar segera melakukan perubahan nyata.
29–30 Agustus – Eskalasi dan Kerusuhan Nasional
rangkaian demo melalui Aksi protes berubah menjadi kerusuhan di berbagai wilayah. Di Makassar, gedung DPRD dibakar, menewaskan beberapa orang; di Solo, gedung DPRD setempat juga dihancurkan dan dibakar oleh massa Di Jakarta, kerusuhan semakin brutal: fasilitas transportasi umum dirusak, mobil polisi dibakar, dan pusat perbelanjaan seperti Senen Station serta beberapa halte Transjakarta dilewati vandalisme dan penjarahan.5

Salah satu momen paling mencolok dari rangkaian demo terjadi ketika rumah mewah milik anggota DPR Ahmad Sahroni di kawasan Tanjung Priok menjadi sasaran amuk massa. Di tengah suasana ricuh dan maraknya aksi vandalisme, sekelompok demonstran menerobos masuk ke dalam kediaman tersebut. Rumah yang selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan mendadak porak-poranda, dengan pintu dan jendela pecah, serta dinding yang dipenuhi coretan protes. Peristiwa ini dengan cepat menjadi pusat perhatian publik karena menunjukkan betapa dalamnya jurang antara gaya hidup pejabat dengan penderitaan masyarakat.6
Tidak berhenti pada kerusakan fisik, massa juga melalui rangkaian demo, rakyar menjarah berbagai barang mewah yang ada di dalam rumah. Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa patung Iron Man berlapis emas, mobil listrik Tesla Model X, hingga sebuah Porsche ikut raib dari garasi. Bahkan, barang-barang pribadi seperti senjata koleksi dan ijazah milik sang legislator juga dilaporkan hilang. Tindakan ini jelas merupakan pelanggaran hukum, namun dalam konteks sosial, ia dibaca sebagai bentuk kemarahan yang meledak terhadap simbol-simbol kekayaan dan privilese yang dianggap tidak pantas dimiliki oleh seorang wakil rakyat di tengah krisis ekonomi yang melanda.
Aksi penjarahan rumah Sahroni kemudian dipandang sebagai simbol kebencian masyarakat terhadap elit politik. Bagi banyak orang, rumah mewah dan barang-barang koleksi tersebut mencerminkan gaya hidup yang berjarak jauh dari realitas rakyat kecil yang sedang berjuang dengan himpitan ekonomi. Peristiwa ini menimbulkan diskusi luas di ruang publik: apakah tindakan massa bisa dibenarkan sebagai ekspresi politik, ataukah justru memperlemah legitimasi gerakan itu sendiri? Bagaimanapun, peristiwa ini memperlihatkan bahwa protes telah melampaui sekadar tuntutan kebijakan, menjadi ekspresi radikal dari frustrasi sosial terhadap kesenjangan dan ketidakadilan yang dirasakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
31 Agustus – Intensifikasi dan Respon Negara
Pada dini hari, demonstran menyerbu kediaman Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Ketua DPR Puan Maharani, menjarah barang-barang pribadi dan menuntut dialog secara langsung.Tekanan publik semakin besar, dan pada hari itu juga Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa tunjangan DPR akan ditinjau kembali, termasuk moratorium perjalanan dinas luar negeri, sebagai respons terhadap tuntutan demonstran.7

Beberapa fraksi di DPR akhirnya menyatakan kesiapan untuk melakukan evaluasi terhadap skema tunjangan anggota dewan serta mendorong peningkatan keterbukaan dalam pengelolaan anggaran. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas gelombang demonstrasi besar-besaran yang menuntut transparansi dan akuntabilitas dari para wakil rakyat. Wacana mengenai moratorium tunjangan rumah hingga pembatasan perjalanan dinas ke luar negeri juga mulai mencuat sebagai bentuk upaya meredakan kemarahan publik.
Publik masih menunjukkan sikap skeptis terhadap komitmen legislator. Banyak yang menilai bahwa pernyataan fraksi-fraksi di DPR baru sebatas retorika politik tanpa rencana implementasi yang jelas. Keraguan ini muncul karena pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa janji-janji reformasi sering kali berhenti pada tataran wacana. Oleh sebab itu, masyarakat menuntut bukti nyata berupa kebijakan yang segera dijalankan, serta mekanisme pengawasan independen yang memastikan bahwa setiap langkah evaluasi benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar kepentingan elite politik.
Analisis: Simbol Krisis Representasi dari Rangkaian Demo
Rangkaian Demo Agustus 2025 bukan sekadar soal nominal tunjangan. Tunjuangan yang mencolok itu berfungsi sebagai katalis untuk membuka perdebatan lebih dalam tentang ketimpangan politik, representasi, dan legitimasi lembaga. Ketertutupan DPR dalam menyampaikan gaji dan fasilitas memperparah persepsi bahwa lembaga legislatif berjarak dari rakyatnya.

Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam sejarah politik global. Studi kasus Gerakan People Power di Filipina pada 1986 menunjukkan bahwa konsolidasi kemarahan rakyat bisa menjatuhkan rezim otoriter Ferdinand Marcos. Kesamaan pola terlihat jelas: rakyat yang kehilangan kepercayaan, elite politik yang gagal mendengar, dan akhirnya jalanan menjadi ruang artikulasi terakhir. Bedanya, konteks Indonesia tahun 2025 berada dalam kerangka negara demokratis, sehingga protes besar-besaran justru menjadi alarm bahwa sistem perwakilan perlu diperbaiki, bukan dibubarkan.
Karena itu, demonstrasi Agustus 2025 bisa dipahami sebagai refleksi atas kebutuhan mendasar demokrasi: transparansi dan akuntabilitas. Publik tidak sekadar menolak kebijakan tunjangan, tetapi menuntut sistem yang lebih terbuka dari pengelolaan anggaran DPR, laporan kekayaan pejabat, hingga mekanisme pengawasan. Dengan kata lain, aksi ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa demokrasi tidak cukup berhenti pada pemilu lima tahunan. Demokrasi sejati menuntut adanya keterhubungan terus-menerus antara rakyat dan wakilnya, serta keberanian lembaga negara untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.
Dampak Sosial, Politik dan Ekonomi dari Rangkaian Demo

Dampak dari Rangkaian Demo tersebut menyentuh berbagai dimensi kehidupan.
- Dari sisi sosial, rangkaian kerusuhan tersebut menimbulkan disrupsi besar terhadap aktivitas masyarakat sehari-hari. Banyak warga yang tidak bisa bekerja karena jalanan dipenuhi massa aksi maupun blokade ban terbakar. Sekolah-sekolah terpaksa meliburkan kegiatan belajar-mengajar demi menjaga keselamatan siswa, sementara para pedagang kecil di sekitar lokasi demo harus menutup lapaknya lebih awal. Di banyak tempat, rasa takut menyelimuti warga yang khawatir terjadi penjarahan maupun bentrokan susulan. Situasi ini pada akhirnya mengikis rasa aman yang selama ini menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Ketika ketidakpastian terus berlanjut, muncul pula keresahan baru berupa berkurangnya kepercayaan publik terhadap negara yang dianggap lamban merespons.
- Dari sisi politik, dampak rangkaian demo sangat terasa pada legitimasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Masyarakat melihat kebijakan tunjangan rumah Rp 50 juta sebagai simbol ketidakpekaan wakil rakyat terhadap penderitaan ekonomi publik. Gelombang aksi yang meluas ke berbagai kota menekan partai politik dan fraksi-fraksi untuk segera bersuara, bahkan sebagian pimpinan fraksi mulai menyatakan kesediaan meninjau ulang kebijakan tersebut. Namun, keterlambatan respons justru mempertebal persepsi bahwa DPR lebih sibuk menjaga citra politik ketimbang mendengarkan aspirasi konstituen. Dalam jangka panjang, krisis kepercayaan ini dapat berimbas pada menurunnya partisipasi politik rakyat, bahkan mendorong lahirnya wacana perombakan sistem representasi di parlemen.
- Sementara dari sisi ekonomi, rangkaian demo menimbulkan kerugian materiil yang sangat besar. Banyak infrastruktur publik seperti halte bus, jalan raya, hingga fasilitas transportasi massal mengalami kerusakan serius. Hal ini bukan hanya menambah beban biaya perbaikan bagi pemerintah daerah, tetapi juga langsung menghambat mobilitas masyarakat. Transportasi publik seperti TransJakarta dan KRL sempat berhenti beroperasi di beberapa jalur karena fasilitasnya dirusak. Aktivitas bisnis di pusat kota ikut lumpuh: pusat perbelanjaan tutup, usaha kecil merugi, hingga para pekerja harian kehilangan pemasukan. Kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai miliaran rupiah dalam hitungan hari menjadi bukti nyata betapa rapuhnya ketahanan ekonomi ketika stabilitas politik dan sosial terguncang.
Dengan demikian, rangkaian demo Agustus 2025 menjadi momentum penting untuk menilai kembali arah demokrasi sekaligus tata kelola kebijakan publik di Indonesia.
Kerusakan dan Penurunan Aktivitas Publik
Rangkaian Demo dengan Kerusuhan yang terjadi pada 29–31 Agustus 2025 membawa dampak luas terhadap infrastruktur kota. Sejumlah gedung DPRD di berbagai daerah, termasuk di Solo dan Makassar, dirusak dan dibakar massa. Aksi vandalisme juga menyasar fasilitas umum seperti halte bus, stasiun kereta, dan jalan raya. Kerusakan ini bukan hanya merugikan pemerintah daerah, tetapi juga menambah beban anggaran publik untuk perbaikan fasilitas yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat.

Selain kerusakan fisik, transportasi publik terganggu parah. Beberapa stasiun kereta di Jakarta seperti Stasiun Pasar Senen mengalami kerusakan akibat lemparan batu, sementara layanan TransJakarta harus dihentikan karena banyak halte dirusak. Jalan protokol di ibu kota sempat lumpuh akibat pembakaran ban dan blokade massa. Kondisi ini memicu kemacetan panjang dan menambah keresahan warga yang sebenarnya tidak ikut serta dalam aksi protes.

Kerusuhan juga berdampak pada pemadaman operasional bisnis, terutama di pusat perbelanjaan dan mal besar. Beberapa mal di kawasan Jakarta Pusat dan Timur terpaksa tutup untuk menghindari penjarahan. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran rupiah dalam hitungan hari akibat penurunan transaksi, evakuasi karyawan, dan kerusakan properti. Tekanan terhadap sektor bisnis membuat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendesak pemerintah segera menstabilkan situasi keamanan agar roda ekonomi tidak semakin terganggu
Gejolak Pasar dan Nilai Tukar
Gelombang demonstrasi yang berujung kerusuhan pada akhir Agustus 2025 ternyata tidak hanya berdampak pada aspek sosial-politik, tetapi juga langsung mengguncang pasar finansial nasional. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok hingga 2,27%, sebuah penurunan signifikan dalam waktu singkat. Gejolak ini mencerminkan tingginya sensitivitas investor terhadap ketidakstabilan politik dan keamanan dalam negeri, yang dinilai berisiko terhadap iklim usaha dan investasi.8

Selain pasar saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga ikut tertekan. Rupiah melemah hampir 1%, sebuah angka yang cukup mencolok mengingat stabilitas nilai tukar sangat krusial bagi perdagangan internasional dan utang luar negeri Indonesia. Melemahnya rupiah memperbesar kekhawatiran akan lonjakan inflasi, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah kebutuhan pokok dan energi.9

Dalam menghadapi situasi yang kian genting seperti rangkaian demo, Bank Indonesia (BI) segera turun tangan dengan langkah-langkah intervensi moneter. Otoritas moneter menggelontorkan berbagai instrumen stabilisasi, mulai dari intervensi di pasar valuta asing untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah, hingga melakukan pembelian kembali surat utang negara (SBN) agar likuiditas di pasar keuangan tetap terjaga. Upaya ini dilakukan karena tekanan terhadap rupiah semakin kuat, sementara pasar obligasi mulai menunjukkan tanda-tanda kepanikan dengan naiknya imbal hasil.
Langkah cepat tersebut menegaskan bahwa BI tidak hanya bertugas menjaga stabilitas fundamental ekonomi seperti inflasi dan nilai tukar, tetapi juga memiliki mandat besar untuk memulihkan kepercayaan investor dan menenangkan gejolak pasar. Dalam konteks krisis politik dan sosial Agustus 2025, seperti rangkaian demo besar-besaran intervensi moneter menjadi instrumen vital untuk mencegah terjadinya krisis keuangan yang lebih dalam. Meskipun intervensi ini tidak serta-merta menghapus akar masalah politik, setidaknya dapat memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa negara masih memiliki kontrol dan keseriusan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Reformasi dan Dialog Publik dari rangkaian demo
Gerakan demonstrasi besar-besaran yang terjadi pada akhir Agustus 2025 berhasil memaksa politisi membuka ruang dialog dengan publik. Aksi yang semula dipicu oleh tunjangan rumah Rp 50 juta bagi anggota DPR berubah menjadi tekanan kolektif yang tidak bisa lagi diabaikan. Desakan dari mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil membuat DPR serta pemerintah akhirnya menanggapi isu ini secara terbuka, meski langkah awal yang diambil masih bersifat terbatas.

Sebagai respons awal melalui rangkaian demo, DPR bersama pemerintah menyampaikan rencana untuk meninjau kembali skema tunjangan dan memberlakukan moratorium perjalanan dinas ke luar negeri bagi anggotanya. Kebijakan ini dipandang sebagai upaya cepat meredam amarah publik sekaligus sinyal bahwa elit politik tidak sepenuhnya menutup diri terhadap kritik. Namun demikian, publik menilai langkah ini hanya bersifat reaktif, belum menyentuh akar persoalan terkait gaya hidup pejabat dan pengelolaan anggaran negara.

Karena itu, tuntutan masyarakat melalui rangkaian demo terus bergulir menuju agenda yang lebih fundamental: reformasi transparansi dan akuntabilitas DPR. Rakyat menghendaki laporan anggaran yang terbuka dan dapat diakses publik, serta mekanisme pengawasan rutin terhadap kinerja dan penggunaan fasilitas anggota dewan. Dengan kata lain, demonstrasi ini bukan hanya menuntut penghapusan tunjangan, tetapi juga menegaskan bahwa legitimasi wakil rakyat hanya bisa dipulihkan jika mereka benar-benar menjalankan prinsip keterbukaan dan tanggung jawab kepada publik.
Penutup
Rangkaian demo Agustus 2025 telah menandai sebuah bab penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia modern. Aksi yang dipicu oleh kebijakan tunjangan rumah DPR itu akhirnya berkembang menjadi gelombang protes nasional yang sarat dengan kemarahan rakyat terhadap ketimpangan institusional. Peristiwa ini bukan sekadar letupan emosional sesaat, melainkan manifestasi dari akumulasi kekecewaan yang selama ini terpendam terhadap praktik politik yang dianggap jauh dari kepentingan rakyat.
Namun, di balik tragedi dan kericuhan yang terjadi, demonstrasi ini juga membuka ruang baru bagi lahirnya dialog dan peluang reformasi. Tekanan publik memaksa DPR dan pemerintah untuk setidaknya mulai membicarakan evaluasi kebijakan tunjangan serta isu-isu transparansi anggaran. Meski langkah awal tersebut masih bersifat reaktif, ia menandai bahwa suara rakyat tetap memiliki daya tekan dan bahwa sistem demokrasi, betapapun rapuhnya, masih memberi ruang koreksi dari bawah.
Pelajaran utama dari peristiwa ini adalah bahwa demokrasi tidak bisa hanya dipahami sebatas penyelenggaraan pemilu lima tahunan. Demokrasi sejati membutuhkan praktik akuntabilitas dan representasi yang konsisten setiap hari. Indonesia harus menjadikan momentum Agustus 2025 sebagai pemicu untuk memperkuat sistem pemerintahan yang lebih transparan, partisipatif, dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Jika tidak, krisis kepercayaan publik dapat kembali berulang, sementara kesempatan untuk membangun demokrasi yang lebih sehat dan berkeadilan bisa hilang begitu saja.
Sumber Referensi
Tantangan Besar Budaya Hukum Timah Bangka Belitung di Tahun 2025
Panduan Lengkap Pajak Hibah dan Waris (2025): Lebih Hemat Lewat Mana?
Hukum Hibah dan Waris dalam Islam: 6 Pertanyaan Penting yang Paling Sering Ditanyakan
Bahaya Ad Hominem dari Kasus Nikita Mirzani
Jejak Digital Tidak Pernah Hilang: 5 Kategori Konten Oversharing yang Berisiko
- BBC News Indonesia – DPR kaji penambahan jumlah komisi demi imbangi ‘kabinet gemuk’ Prabowo-Gibran – Memperkuat pengawasan atau bagi-bagi kursi pimpinan? ↩︎
- Ibid ↩︎
- Tim Detik.com – Menyoal Tunjangan Rumah Rp 50 Juta Dpr yang Picu Demo 25 Agustus ↩︎
- Yudha Maulana DetikJakbar – Lini Masa Demo Agustus 2025 : Dari Joget DPR Hingga Rumah Sahroni Dijarah ↩︎
- Wikipedia – August 2025 Indonesian protests ↩︎
- Ibid ↩︎
- Tribun Kalteng – Demo Hari ini Update Jakarta, Surabaya dan Daerah Lain 31 Agustus 2025, Markas Polsek Rusak . ↩︎
- Stefanno Sulaiman and Rae Wee Reuters – Indonesia stocks, rupiah dive as political unrest jolts investors ↩︎
- Ibid ↩︎
